Senin, 13 Mei 2013

Cerita si Hati.....



Disaat dia mulai berusaha mendekatiku..
Sejujurnya aku tersenyum manis, tapi akhirnya dia pergi!

Malam itu, tiba-tiba telepon genggamku berdering tanda panggilan masuk. Sedikit terkejut, aku terima panggilan dari nomor yang asing bagiku tersebut.
Lalu dari seberang sana terdengarlah suara merdu seorang pria, dia memperkenalkan dirinya lalu meminta maaf jika telah mengganggu istirahatku. Aku tersenyum dan berkata, tidak, aku tidak merasa terganggu.
Malam itu pembicaraan melalui telpon genggam ditutup dengan salam hangat. Aku hanya tersenyum dengan tingkah beraninya menghubungiku malam itu.
Malam berikutnya, hal yang sama terjadi. Dia menghubungiku kembali. Ya, dia menghubungiku saat itu hanya pada malam hari karena faktor pekerjaannya. Pembicaraan yang terjadi sebenarnya tidak pernah jauh berbeda, dimulai dengan bertanya apakah sudah makan hingga aktifitas – aktifitas pada hari itu.
Aku akui, dia begitu cepat membuatku hanyut dalam rayuan gombalnya. Hingga pada satu malam, dia berkata padaku bahwa sebenarnya dia begitu malu mendekatiku. Dia menceritakan soal kedekatannya denganku kepada Ibunya, Ibunya berkata bahwa aku diibaratkan burung bersangkar emas sedangkan dia hanya besi berkarat. Sejenak aku terdiam, lalu aku berkata kita sama, kita sama – sama anak manusia. Aku selama ini tidak pernah membedakan status seseorang. Sejak pembicaraan itu, hatiku mulai bersimpati padanya. Perhatian yang Dia berikan kepadaku cukup membantuku sedikit bangkit dari keterpurukan tanpa Dia tahu. Pernah suatu ketika Dia bertanya, apa masalah yang sedang ku pikirkan? Aku berkata aku baik-baik saja, aku hanya ingin dia memberikanku kebahagiaan tanpa harus mengungkit kesedihan.
Dan akhirnya pada Desember 2012 lalu aku putuskan untuk kembali ke kota favoritku, Iya Jakarta. Jakarta kota yang membuat hidupku terasa lebih berwarna, maju dan semangatku membara seperti kemacetan yang terjadi disana. Aku berangkat ke Jakarta tanpa memberikan kabar kepadanya, aku takut Dia memberatkan langkahku, itu alasan sangat datar menurutku.
Keesokan harinya Dia menghubungiku, aku masih ingat itu pada sore hari. Dia bertanya dengan begitu santun dan sopan tanpa ada emosi yang kurasakan, kenapa aku pergi? Kenapa aku tidak mengabarinya? Lalu dengan logis aku berkata, aku tidak ingin merepotkannya dan lagi pula kepergianku begitu mendadak. Dia tidak berkomentar apalagi marah, dia hanya bertanya sampai berapa lama aku disana? Aku menjawab, tidak akan lama. Dia berkata akan menungguku untuk membicarakan perbincangan serius. Ya itu disampaikannya sore itu. Selama kepergianku, Dia tanpa henti menghubungiku, menyemangatiku dan mengingatkanku dengan berbagai hal. Sedangkan aku? Masih begitu pasif padanya, aku menyadari perasaanku padanya tapi aku tidak bisa mengungkapkannya.
Hubungan kami bisa dikatakan semakin dekat, aku tidak pernah menuntutnya untuk sebuah hubungan serius. Tetapi pada malam hari itu, aku lupa tepatnya hari dan tanggal berapa. Harusnya aku mengingatnya, itu tanggal penting untuk hubungan kami. Dia mengungkapkan perasaannya, Dia mengatakan mencintaiku. Entahlah, aku masih tidak mengerti dengan hatiku. Terkadang aku berfikir telah menyakitinya, terkadang aku berfikir juga mencintainya. Akhirnya kami menjalin hubungan, aku masih bisa mengingat betapa emosi bahagia yang terdengar dari telepon genggam tersebut. Dia begitu bahagia, begitu yang terdengar. Tak henti – hentinya Dia mengucap syukur kepada Allah. Aku hanya tertawa kecil lalu menyuruhnya makan malam. Semenjak hari itu, perhatiannya begitu ekstra menurutku. Terkadang aku merasa terganggu disela aktifitas sibukku, tetapi terkadang aku butuh semangat itu. Kuhargai ketulusannya, aku sungguh merasa bersalah tanpa bisa membuatnya berharga, setidaknya membuat Dia dengan lahap menyantap makan siangnya. Aku bisa dikatakan jarang membalas SMS darinya, jika diposisikan aku menjadi Dia, mungkin aku telah mundur saat itu.
Aku begitu salut dengan kegigihannya mencintaiku, pengorbanannya. Sungguh, aku tidak sanggup mengingatnya. Perasaan bersalah selalu memenangkan air mata untuk mengalir. Suatu malam terjadi pembicaraan serius antara kami, bisa dikatakan serius karena Dia ingin melamarku. Oh My GOD,,, aku terdiam sesaat dan akhirnya aku berkata belum siap untuk itu semua. Sebenarnya Dia paham apa yang membuatku tidak siap, Keluarga besarku. Itu permasalahan terbesar dalam hubungan kami. Kita jalani dulu hubungan ini, akhirnya aku memecah keheningan antara kami. Dia menyetujui keputusanku, walaupun setiap kami berbicara melalui telepon Dia suka berkhayal terlalu jauh tentang hubungan kami. Itu hal yang paling aku takutkan. Sungguh!!
Sejujurnya, aku tidak mengerti akan seperti apa hubungan kami akhirnya. Dan akhirnya terjadilah hubungan yang begitu menyedihkan ini, kenapa begitu menyedihkan?
Aku berani berkata ini begitu menyedihkan, bahkan sungguh sangat menyedihkan. Aku berdosa, aku telah menyakitinya hingga akhirnya Dia pergi tinggalkanku, dan sekarang penyesalan itu selalu hadir .
Sekitar awal February, panggilan telepon darinya sering sekali aku abaikan hingga terkadang 10x panggilan tidak terjawab darinya, lalu Dia mengirimiku pesan singkat untuk jangan lupa makan dan istirahat yang cukup tapi aku juga enggan membalasnya. Hingga akhirnya, tanpa aku tahu. Bukan, sebenarnya karena aku tidak memperhatikannya dan juga tidak pernah bertanya tentang pekerjaannya. Dia begitu hebat menurutku, tidak pernah mengeluh untuk pekerjaan yang dijalaninya, padahal saat itu masalah berat ternyata sedang dipikirkannnya. Maafkan aku yang tidak pernah bisa membahagiakanmu, mendukungmu. Maafkan aku! Mungkin Dia begitu putus asa saat itu, membutuhkan semangat dariku tapi perjuangannya tidak pernah aku hargai. Sampai hari ini aku tidak pernah menerima panggilan masuk lagi darinya, bahkan aku tidak mampu menghubunginya karena aku malu, aku malu telah menyia-nyiakan Dia. Akhir February aku pulang dari Jakarta, sepanjang perjalanan pulang kerumah. Aku memikirkannya, dalam hatiku berkata “Sayang, aku sudah disini. Aku didekatmu sekarang”.
Selalu kukatakan ini salahku, semua salahku. Dia begitu berubah dimataku, Dia tidak menyambut kepulanganku, bahkan Dia juga tetap tidak menghubungiku. Dia melihatku, seakan tidak ada hubungan antara kami berdua. Semuanya datar, menyapaku saja Dia enggan. Disitulah akhirnya aku menyadari, aku telah menyia-nyiakan orang yang menyayangiku. Aku mengakui penyesalan terdalam dihatiku, sekarang aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Iya, dari kejauhan. Itu sungguh menyakitkan bukan?


Tanggal 13 mei 2013, sulit berucap.. sulit berucap!!!!

Sabtu, 04 Mei 2013

SEMANGAT ^_^



Semua orang  pasti mempunyai masalah, aku percaya itu.
Semua orang pasti pernah berada di titik terjenuh.
Dan semua orang mempunyai cara berbeda menyikapi itu semua.
Dan tidak sedikit yang berhasil setelah kegagalan.
Itu semua cara Tuhan membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat.
Disaat aku banyak masalah, aku berusaha untuk tidak menangis karena aku percaya itu tanda bahwa Tuhan masih mengingatku.
Dan disaat aku berada dititik terjenuh, aku selalu mengingat kalimat favoritku “ SEMANGAT, JANGAN  PERNAH MENYERAH”
Sekali aku menyerah, aku tidak akan berhasil sukses...
Tidak ada seorangpun yang langsung sukses mencapai karier, meniti anak tangga perjuangan merupakan kebanggaan bagi semua orang.
SEMANGAT!!!!! JANGAN PERNAH MENYERAH!!!!
Selamat malam minggu ^....^
04 Mei 2013