Disaat dia mulai berusaha mendekatiku..
Sejujurnya aku tersenyum manis, tapi akhirnya
dia pergi!
Malam itu, tiba-tiba telepon genggamku berdering
tanda panggilan masuk. Sedikit terkejut, aku terima panggilan dari nomor yang
asing bagiku tersebut.
Lalu dari seberang sana terdengarlah suara merdu
seorang pria, dia memperkenalkan dirinya lalu meminta maaf jika telah
mengganggu istirahatku. Aku tersenyum dan berkata, tidak, aku tidak merasa
terganggu.
Malam itu pembicaraan melalui telpon genggam
ditutup dengan salam hangat. Aku hanya tersenyum dengan tingkah beraninya
menghubungiku malam itu.
Malam berikutnya, hal yang sama terjadi. Dia
menghubungiku kembali. Ya, dia menghubungiku saat itu hanya pada malam hari
karena faktor pekerjaannya. Pembicaraan yang terjadi sebenarnya tidak pernah
jauh berbeda, dimulai dengan bertanya apakah sudah makan hingga aktifitas –
aktifitas pada hari itu.
Aku akui, dia begitu cepat membuatku hanyut
dalam rayuan gombalnya. Hingga pada satu malam, dia berkata padaku bahwa
sebenarnya dia begitu malu mendekatiku. Dia menceritakan soal kedekatannya
denganku kepada Ibunya, Ibunya berkata bahwa aku diibaratkan burung bersangkar
emas sedangkan dia hanya besi berkarat. Sejenak aku terdiam, lalu aku berkata
kita sama, kita sama – sama anak manusia. Aku selama ini tidak pernah
membedakan status seseorang. Sejak pembicaraan itu, hatiku mulai bersimpati
padanya. Perhatian yang Dia berikan kepadaku cukup membantuku sedikit bangkit
dari keterpurukan tanpa Dia tahu. Pernah suatu ketika Dia bertanya, apa masalah
yang sedang ku pikirkan? Aku berkata aku baik-baik saja, aku hanya ingin dia
memberikanku kebahagiaan tanpa harus mengungkit kesedihan.
Dan akhirnya pada Desember 2012 lalu aku
putuskan untuk kembali ke kota favoritku, Iya Jakarta. Jakarta kota yang
membuat hidupku terasa lebih berwarna, maju dan semangatku membara seperti
kemacetan yang terjadi disana. Aku berangkat ke Jakarta tanpa memberikan kabar
kepadanya, aku takut Dia memberatkan langkahku, itu alasan sangat datar
menurutku.
Keesokan harinya Dia menghubungiku, aku masih
ingat itu pada sore hari. Dia bertanya dengan begitu santun dan sopan tanpa ada
emosi yang kurasakan, kenapa aku pergi? Kenapa aku tidak mengabarinya? Lalu
dengan logis aku berkata, aku tidak ingin merepotkannya dan lagi pula
kepergianku begitu mendadak. Dia tidak berkomentar apalagi marah, dia hanya
bertanya sampai berapa lama aku disana? Aku menjawab, tidak akan lama. Dia
berkata akan menungguku untuk membicarakan perbincangan serius. Ya itu
disampaikannya sore itu. Selama kepergianku, Dia tanpa henti menghubungiku, menyemangatiku
dan mengingatkanku dengan berbagai hal. Sedangkan aku? Masih begitu pasif
padanya, aku menyadari perasaanku padanya tapi aku tidak bisa mengungkapkannya.
Hubungan kami bisa dikatakan semakin dekat, aku
tidak pernah menuntutnya untuk sebuah hubungan serius. Tetapi pada malam hari
itu, aku lupa tepatnya hari dan tanggal berapa. Harusnya aku mengingatnya, itu
tanggal penting untuk hubungan kami. Dia mengungkapkan perasaannya, Dia
mengatakan mencintaiku. Entahlah, aku masih tidak mengerti dengan hatiku.
Terkadang aku berfikir telah menyakitinya, terkadang aku berfikir juga
mencintainya. Akhirnya kami menjalin hubungan, aku masih bisa mengingat betapa
emosi bahagia yang terdengar dari telepon genggam tersebut. Dia begitu bahagia,
begitu yang terdengar. Tak henti – hentinya Dia mengucap syukur kepada Allah.
Aku hanya tertawa kecil lalu menyuruhnya makan malam. Semenjak hari itu,
perhatiannya begitu ekstra menurutku. Terkadang aku merasa terganggu disela
aktifitas sibukku, tetapi terkadang aku butuh semangat itu. Kuhargai
ketulusannya, aku sungguh merasa bersalah tanpa bisa membuatnya berharga,
setidaknya membuat Dia dengan lahap menyantap makan siangnya. Aku bisa
dikatakan jarang membalas SMS darinya, jika diposisikan aku menjadi Dia,
mungkin aku telah mundur saat itu.
Aku begitu salut dengan kegigihannya
mencintaiku, pengorbanannya. Sungguh, aku tidak sanggup mengingatnya. Perasaan
bersalah selalu memenangkan air mata untuk mengalir. Suatu malam terjadi
pembicaraan serius antara kami, bisa dikatakan serius karena Dia ingin
melamarku. Oh My GOD,,, aku terdiam sesaat dan akhirnya aku berkata belum siap
untuk itu semua. Sebenarnya Dia paham apa yang membuatku tidak siap, Keluarga
besarku. Itu permasalahan terbesar dalam hubungan kami. Kita jalani dulu
hubungan ini, akhirnya aku memecah keheningan antara kami. Dia menyetujui
keputusanku, walaupun setiap kami berbicara melalui telepon Dia suka berkhayal
terlalu jauh tentang hubungan kami. Itu hal yang paling aku takutkan. Sungguh!!
Sejujurnya, aku tidak mengerti akan seperti apa
hubungan kami akhirnya. Dan akhirnya terjadilah hubungan yang begitu
menyedihkan ini, kenapa begitu menyedihkan?
Aku berani berkata ini begitu menyedihkan,
bahkan sungguh sangat menyedihkan. Aku berdosa, aku telah menyakitinya hingga
akhirnya Dia pergi tinggalkanku, dan sekarang penyesalan itu selalu hadir .
Sekitar awal February, panggilan telepon darinya
sering sekali aku abaikan hingga terkadang 10x panggilan tidak terjawab
darinya, lalu Dia mengirimiku pesan singkat untuk jangan lupa makan dan
istirahat yang cukup tapi aku juga enggan membalasnya. Hingga akhirnya, tanpa
aku tahu. Bukan, sebenarnya karena aku tidak memperhatikannya dan juga tidak
pernah bertanya tentang pekerjaannya. Dia begitu hebat menurutku, tidak pernah
mengeluh untuk pekerjaan yang dijalaninya, padahal saat itu masalah berat
ternyata sedang dipikirkannnya. Maafkan aku yang tidak pernah bisa
membahagiakanmu, mendukungmu. Maafkan aku! Mungkin Dia begitu putus asa saat
itu, membutuhkan semangat dariku tapi perjuangannya tidak pernah aku hargai.
Sampai hari ini aku tidak pernah menerima panggilan masuk lagi darinya, bahkan
aku tidak mampu menghubunginya karena aku malu, aku malu telah menyia-nyiakan
Dia. Akhir February aku pulang dari Jakarta, sepanjang perjalanan pulang
kerumah. Aku memikirkannya, dalam hatiku berkata “Sayang, aku sudah disini. Aku
didekatmu sekarang”.
Selalu kukatakan ini salahku, semua salahku. Dia
begitu berubah dimataku, Dia tidak menyambut kepulanganku, bahkan Dia juga
tetap tidak menghubungiku. Dia melihatku, seakan tidak ada hubungan antara kami
berdua. Semuanya datar, menyapaku saja Dia enggan. Disitulah akhirnya aku
menyadari, aku telah menyia-nyiakan orang yang menyayangiku. Aku mengakui
penyesalan terdalam dihatiku, sekarang aku hanya bisa memandangnya dari
kejauhan. Iya, dari kejauhan. Itu sungguh menyakitkan bukan?
Tanggal 13 mei 2013, sulit berucap.. sulit
berucap!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar