A.
PENDAHULUAN
Setiap
pemeriksaan andrologi, setidaknya dilengkapi dengan pemeriksaan sperma, sebab
hasil – hasilnya mempunyai arti penting dalam diagnosa andrologi. Karena
pemeriksaan sperma bertujuan untuk meneliti segala unsur – unsur sperma, maka
penelitian ini juga dinamakan analisis sperma.
Evaluasi
hasil analisis sperma merupakan titik tolak tindakan andrologi berikutnya.
Sebelum
dilakukan analisis sperma, dokter andrologi atau dokter yang menangani masalah
tersebut mengadakan anamnesa terlebih dahulu terhadap pasien yaitu yang diikuti
oleh pemeriksaan tubuh, terutama alat kelamin. Bila perlu dilakukan pula
pemeriksaan darah, kencing dan lainnya.
B.
PENERANGAN UNTUK PENDERITA
1.
Cara
memperoleh sperma
Ada beberapa macam cara untuk memperoleh sampel sperma
misalnya dengan cara :
a.
Masturbasi
b.
Koitus
interuptus
c.
Koitus
kondomatus
d.
Vibrator
e.
Refluks
pasca sanggama
2.
Wadah
penampungan sperma
Sperma yang telah berhasil dikeluarkan, ditampung di dalam
wadah kemudian diserahkan kepada petugas laboratorium. Syarat – syarat untuk
wadah ialah :
a.
Terbuat
dari gelas, jangan dari plastik atau logam
b.
Bermulut
lebar, agar sperma mudah tertampung
c.
Wadah
harus bersih, steril, jangan tercampur dengan zat atau bahan – bahan bekas pada
wadah tersebut.
d.
Wadah
harus tertutup, terhindar dari panas dan pengaruh luar.
3.
Penyerahan
sampel sperma ke Laboratorium
Sampel sperma setelah ejakulasi harus
diserahkan kelaboratorium paling lambat setengah jam atau 1 jam, lebih baik
langsung setelah ejakulasi.
4.
Waktu
abstinensia
Waktu abstinensia adalah jarak waktu
istirahat tak melakukan kegiatan seks oleh seseorang setelah senggama
(pengeluaran sperma) yang pertama kesenggama (pengeluaran sperma) berikutnya.
Syarat abstinensia yang harus dipenuhi
oleh penderita yang hendak memeriksakan sperma ialah 3-hari.
5.
Pemeriksaan
Ulang
Penderita harus diberitahu bahwa
kemungkinan adanya pemeriksaan ulang selalu ada, penderita juga diberitahu
bahwa pemeriksaan ulang itu perlu karena pemeriksaan yang hanya sekali belum
mencerminkan spermiogram (gambaran) rata-rata.
6.
Waktu
pemeriksaan sperma
Setelah penderita diberi penerangan
tentang cara-cara serta syarat-syarat pengeluaran sperma dan lain sebagainya,
maka waktu pengeluaran sperma dapat pula ditetapkan. Hal ini tergantung dari
kesiapan penderita dan kesiapan laboratorium.
Jika syarat-syarat serta semua
persiapan baik penderita maupun laboratorium telah dipenuhi, maka pengeluaran
sperma dapat dilakukan.
C.
KOMPOSISI DAN KEADAAN FISIK SPERMA
Sperma adalah zat setengah cair atau
setengah kental, yang terdiri dari dua bagian, yaitu plasma sperma dan
spermatozoa.
Plasma sperma dihasilkan oleh kelenjar
– kelenjar prostat, vesika seminalis, epididimis, cowper dan littre. Sedangkan
spermatozoa dihasilkan oleh aktifitas tubuli seminiferi.
Bilamana dinyatakan dalam prosentase,
maka susunan komponen sperma itu sebagai berikut :
1.
Vesika
seminalis : (± 70% volume sperma).
2.
Prostat
: (± 20%
volume sperma).
3.
Epididimis,
ampula duk. Deferens dan spermatozoa : (7-10 % volume sperma).
Jika dinyatakan dalam volume sperma,
perbandingan itu adalah :
1.
Vesika
seminalis : 2 – 2,5 ml
2.
Prostat,
epididimis, ampula duk. Deferens dan spermatozoa : ± 0,5 ml.
3.
Kelenjar
Cowper dan Littre : ± 0,2 ml
D.
PEMERIKSAAN SPERMA
1.
Volume
sperma
a.
Normal
: antara 2-5 ml.
b.
Jika
kurang dari 1,0 ml disebut hipospermia.
c.
Jika
lebih dari 5 ml disebut hiperspermia.
2.
pH
sperma
a.
normal
: antara 6,8 – 7,8
b.
abnormal
: lebih dari 7,8 kurang dari 6,8.
3.
Warna
sperma
a.
Normal
: berwarna putih kanji, putih keabuan, putih kekuningan.
b.
Abnormal
: kemerahan / merah darah disebut hemospermia. Jika putih susu disebut
lekospermia (karena leukosit).
4.Bau sperma
a.
Normal
: berbau “khas” seperti bunga akasia.
b.
Abnormal
: berbau tidak khas, seperti : pesing, amis, obat-obatan.
5.Koagulum sperma / Likuefaksi sperma
a.
Normal
: ada pada sperma yang baru diejakulasikan dan akan mengalami likuefaksi dalam
waktu 15-20 menit.
b.
Abnormal
: jika tidak ada koagulum pada sperma yang baru diejakulasi dan likuefaksi ≥ 20
menit disebut tidak sempurna, jika setelah 60 menit masih ada sebagian koagulum
disebut “likuefaksi lama” ( prolonged liquefaction ).
6. Viskositas sperma
a.
Normal
: waktu satu tetesan 1-2 detik.
b.
Jika
waktu satu tetesan lebih dari 2 detik disebut viskositas tinggi.
7.
Motilitas
sperma
a.
Spermatozoa
motilitas baik
Spermatozoa bergerak lurus kedepan,
lincah, cepat dengan beat ekor yang berirama.
b.
Spermatozoa
motilitas kurang baik
-
Motilitas
bergetar / berputar
-
Motilitas
tanpa arah
-
Motilitas
karena asimetri kepala atau ekor
-
Motilitas
spermatozoa imatur
-
Motilitas
spermatozoa teraglutinasi
-
Motilitas
spermatozoa terperangkap
-
Motilitas
spermatozoa lemah
8.
Jumlah
spermatozoa
Untuk menghitung jumlah spermatozoa
dapat dipakai : Hemositometer ( pipet leukosit & eritrosit ), kamar hitung.
9.
Morfologi
spermatozoa
Pemeriksaan morfologi spermatozoa
ditujukan untuk melihat bentuk – bentuk spermatozoa
10.
Aglutinasi
sperma
a.
Normal
: baik aglutinasi sejati atau palsu tidak ada.
b.
Abnormal
: jika terdapat aglutinasi.
11.
Leukosit
/ mm3
Jika jumlah sel lekosit lebih dari 1000
/ mm3 disebut ada pencemaran / infeksi pada traktus genitalis dan
kelenjar asesori.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar