Rabu, 06 Februari 2013

Analisis Sperma


A.        PENDAHULUAN
Setiap pemeriksaan andrologi, setidaknya dilengkapi dengan pemeriksaan sperma, sebab hasil – hasilnya mempunyai arti penting dalam diagnosa andrologi. Karena pemeriksaan sperma bertujuan untuk meneliti segala unsur – unsur sperma, maka penelitian ini juga dinamakan analisis sperma.
Evaluasi hasil analisis sperma merupakan titik tolak tindakan andrologi berikutnya.
Sebelum dilakukan analisis sperma, dokter andrologi atau dokter yang menangani masalah tersebut mengadakan anamnesa terlebih dahulu terhadap pasien yaitu yang diikuti oleh pemeriksaan tubuh, terutama alat kelamin. Bila perlu dilakukan pula pemeriksaan darah, kencing dan lainnya.

B.         PENERANGAN UNTUK PENDERITA
1.      Cara memperoleh sperma
Ada beberapa macam cara untuk memperoleh sampel sperma misalnya dengan cara :
a.     Masturbasi
b.     Koitus interuptus
c.     Koitus kondomatus
d.     Vibrator
e.     Refluks pasca sanggama
2.     Wadah penampungan sperma
Sperma yang telah berhasil dikeluarkan, ditampung di dalam wadah kemudian diserahkan kepada petugas laboratorium. Syarat – syarat untuk wadah ialah :
a.     Terbuat dari gelas, jangan dari plastik atau logam
b.     Bermulut lebar, agar sperma mudah tertampung
c.     Wadah harus bersih, steril, jangan tercampur dengan zat atau bahan – bahan bekas pada wadah tersebut.
d.     Wadah harus tertutup, terhindar dari panas dan pengaruh luar.
3.     Penyerahan sampel sperma ke Laboratorium
Sampel sperma setelah ejakulasi harus diserahkan kelaboratorium paling lambat setengah jam atau 1 jam, lebih baik langsung setelah ejakulasi.
4.     Waktu abstinensia
Waktu abstinensia adalah jarak waktu istirahat tak melakukan kegiatan seks oleh seseorang setelah senggama (pengeluaran sperma) yang pertama kesenggama (pengeluaran sperma) berikutnya.
Syarat abstinensia yang harus dipenuhi oleh penderita yang hendak memeriksakan sperma ialah 3-hari.
5.     Pemeriksaan Ulang
Penderita harus diberitahu bahwa kemungkinan adanya pemeriksaan ulang selalu ada, penderita juga diberitahu bahwa pemeriksaan ulang itu perlu karena pemeriksaan yang hanya sekali belum mencerminkan spermiogram (gambaran) rata-rata.
6.     Waktu pemeriksaan sperma
Setelah penderita diberi penerangan tentang cara-cara serta syarat-syarat pengeluaran sperma dan lain sebagainya, maka waktu pengeluaran sperma dapat pula ditetapkan. Hal ini tergantung dari kesiapan penderita dan kesiapan laboratorium.
Jika syarat-syarat serta semua persiapan baik penderita maupun laboratorium telah dipenuhi, maka pengeluaran sperma dapat dilakukan.

C.         KOMPOSISI DAN KEADAAN FISIK SPERMA
Sperma adalah zat setengah cair atau setengah kental, yang terdiri dari dua bagian, yaitu plasma sperma dan spermatozoa.
Plasma sperma dihasilkan oleh kelenjar – kelenjar prostat, vesika seminalis, epididimis, cowper dan littre. Sedangkan spermatozoa dihasilkan oleh aktifitas tubuli seminiferi.
Bilamana dinyatakan dalam prosentase, maka susunan komponen sperma itu sebagai berikut :
1.      Vesika seminalis : (± 70% volume sperma).
2.     Prostat                                : (± 20% volume sperma).
3.     Epididimis, ampula duk. Deferens dan spermatozoa : (7-10 % volume sperma).
Jika dinyatakan dalam volume sperma, perbandingan itu adalah :
1.      Vesika seminalis : 2 – 2,5 ml
2.     Prostat, epididimis, ampula duk. Deferens dan spermatozoa : ± 0,5 ml.
3.     Kelenjar Cowper dan Littre             : ± 0,2 ml

D.        PEMERIKSAAN SPERMA
1.          Volume sperma
a.          Normal : antara 2-5 ml.
b.          Jika kurang dari 1,0 ml disebut hipospermia.
c.          Jika lebih dari 5 ml disebut hiperspermia.
2.         pH sperma
a.          normal : antara 6,8 – 7,8
b.          abnormal : lebih dari 7,8 kurang dari 6,8.
3.          Warna sperma
a.             Normal : berwarna putih kanji, putih keabuan, putih kekuningan.
b.            Abnormal : kemerahan / merah darah disebut hemospermia. Jika putih susu disebut lekospermia (karena leukosit).
4.Bau sperma
a.          Normal : berbau “khas” seperti bunga akasia.
b.          Abnormal : berbau tidak khas, seperti : pesing, amis, obat-obatan.
5.Koagulum sperma / Likuefaksi sperma
a.          Normal : ada pada sperma yang baru diejakulasikan dan akan mengalami likuefaksi dalam waktu 15-20 menit.
b.          Abnormal : jika tidak ada koagulum pada sperma yang baru diejakulasi dan likuefaksi ≥ 20 menit disebut tidak sempurna, jika setelah 60 menit masih ada sebagian koagulum disebut “likuefaksi lama” ( prolonged liquefaction ).
6. Viskositas sperma
a.          Normal : waktu satu tetesan 1-2 detik.
b.          Jika waktu satu tetesan lebih dari 2 detik disebut viskositas tinggi.
7.         Motilitas sperma
a.          Spermatozoa motilitas baik
Spermatozoa bergerak lurus kedepan, lincah, cepat dengan beat ekor yang berirama.
b.          Spermatozoa motilitas kurang baik
-       Motilitas bergetar / berputar
-       Motilitas tanpa arah
-       Motilitas karena asimetri kepala atau ekor
-       Motilitas spermatozoa imatur
-       Motilitas spermatozoa teraglutinasi
-       Motilitas spermatozoa terperangkap
-       Motilitas spermatozoa lemah
8.         Jumlah spermatozoa
Untuk menghitung jumlah spermatozoa dapat dipakai : Hemositometer ( pipet leukosit & eritrosit ), kamar hitung.

9.         Morfologi spermatozoa
Pemeriksaan morfologi spermatozoa ditujukan untuk melihat bentuk – bentuk spermatozoa
10.      Aglutinasi sperma
a.          Normal : baik aglutinasi sejati atau palsu tidak ada.
b.          Abnormal : jika terdapat aglutinasi.
11.        Leukosit / mm3
Jika jumlah sel lekosit lebih dari 1000 / mm3 disebut ada pencemaran / infeksi pada traktus genitalis dan kelenjar asesori.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar