Non Protein Nitrogen (NPN) adalah senyawa
– senyawa nitrogen bukan protein yang berasal dari katabolisme protein dan asam
nukleat.
Dalam plasma terdapat lebih dari 15 macam zat
NPN, antara lain :
A.
Ureum
Ureum merupakan ‘end product’ yang paling bebas
dari protein dan asam amino. Proses katabolisme protein ini berlangsung didalam
hati/hepar. Urea yang terbentuk dibuang lewat ginjal, keringat dan feses (Ureum
mengalami degradasi oleh kerja bakteri usus).
Pembuangan lewat urin ± 80% - 90% dari total
Nitrogen dalam urin, setelah mengalami filtrasi, reabsorbsi dan sekresi oleh
glomerulus dan tubulus ginjal. Dengan demikian dapat dinilai fungsi ginjal.
Untuk ini perlu diperhatikan :
1.
Kenaikan konsentrasi
urea dan kreatinin dalam darah berarti fungsi ginjal sudah secara jelas
terbatas.
2.
Karena daerah nilai
normal agak luas, maka pemeriksaan urea untuk diagnosa pembatasan fungsi ginjal
kurang berarti dibanding dengan kreatinin.
3.
Konsentrasi urea
dalam serum tergantung dari beberapa faktor ekstra renalis.
Pada keadaan normal kadar ureum darah
mencerminkan keseimbangan antara produksi dan sekresinya.
Penetapan Kadar Ureum :
Metode pemeriksaan
kadar ureum dapat dilakukan dengan cara langsung ( reaksi warna ), secara tidak
langsung dengan mengukur aktifitas enzim urease yang mengurai ureum menjadi
ion-ion NH4+.
Hasil penetapan
kadar ureum :
-
Di Amerika
dinyatakan dalam BUN = Blood Urea Nitrogen
- Di Eropa dinyatakan dalam Ureum
BM Urea = 60, mengandung 2 atom N dengan
BM 28.
|
Ureum = BUN x 2,14
=
BUN x 60 : 28
|
Arti klinis :
-
Kadar ureum
dipengaruhi oleh intake protein dan cairan.
-
Bahan – bahan lain
yang mempengaruhi kadar BUN / Ureum :
a. Meningkatnya kadar BUN
b. Menurunkan pembentukan ureum / BUN
Kelainan kadar ureum dalam darah disebut
uremia. Uremia biasa terjadi pada pasien gagal ginjal berat. Merupakan sindrom
klinis yang ditandai dengan azotemia berat, acidosis, gangguan keseimbangan air
dan elektrolit, mual, muntah, perubahan neuropsyckiatri.
Kenaikan kadar NPN, terutama ureum dan
kreatinin disebut azotemia, azotemia digolongkan menjadi :
-
Azotemia pre-renal
-
Azotemia renal
-
Azotemia post-renal
B.
Kreatinin dan Kreatin
Kreatin disintesa dari asam-asam amino,
diproduksi terutama di hati dan ginjal. 98% dari total kreatin tubuh terdapat
didalam otot.
Kadar kreatin dalam darah normal :
- laki-laki : 0,2 – 0,6 mg/dl
:
- wanita : 0,6 – 1,0 mg/dl
Kreatinin dibentuk dari hasil dehidrasi non
enzimatik kreatinin otot, terbentuk secara spontan dan sifatnya irreversible.
Produksi kreatinin setiap hari stabil ± 2% dari kreatin dalam 24 jam.
Perubahan kadar serum kreatinin, berbeda dengan urea yaitu tidak
dipengaruhi oleh kadar protein dalam makanan. Dengan demikian kreatinin
merefleksikan beratnya kegagalan ginjal meskipun selama suatu diet protein yang
rendah dan ketat.
-
Beberapa metode yang
sering digunakan adalah :
1.
Metode Yaffe, baik
metode end point atau metode kinetik, dengan deproteinisasi atau tanpa
deproteinisasi.
2.
Metode atau test
enzimatik warna.
3.
Metode Hare,
modifikasi ( Dasar dari metode yaffe ).
-
Kadar ureum dalam
darah : laki-laki : 0,6 – 1,2 mg/dl
: wanita : 0,5 –
1,0 mg/dl
-
Mempunyai arti
klinis yaitu kadar kreatinin meninggi pada penurunan fungsi ginjal, bila masa
otot berkurang maka fungsi ginjal menurun. Pada uremia : Normal : BUN meninggi, kreatinin normal
: renal : BUN meninggi lebih cepat dari kreatinin.
-
Kreatin urea dulu
merupakan pengukuran yang berguna pada pasien, sekarang pemeriksaan kreatin
kinase plasma merupakan cara yang lebih sensitif untuk mendeteksi dan mengukur
kerusakan otot akuta.
C.
Asama urat
Asam urat merupakan produk akhir utama dari
metabolisme asam nukleat dan purin pada manusia melalui jalur umum akhir untuk
konversi xantin, dengan menggunakan xantin oksidase, menjadi asam urat. Sintesa
asam urat terjadi dihati.
Sumber purin ( asam amino ) :
daging dan organ – organ tubuh, kacang – kacangan dan ragi.
Kadar urat plasma sedikit dipengaruhi oleh
varian kandungan purin diet dan menggambarkan keadaan stabil antara produksi endogen
dan sekresi tubulus ke urin, karena normalnya urat yang difiltrasi hampir
seluruhnya direbsorbsi.
Metode yang sering digunakan adalah :
1.
Test warna
enzimatik, metode uricase – PAP.
2.
Metode Henry et al (
Dasarnya juga metode uricase ).
3.
Metode Uricase /
Katalase / Aldehyde dehydrogenase.
Kadar asam urat dalam plasma :
laki – laki : 4,0 – 8,5 mg/dl
:
wanita : 2,7 – 7,3 mg/dl
D.
Ammonia
Sejumlah kecil ammonia terbentuk didalam dan
diabsorbsi dari usus, serta dimetabolisme di dalam hepar. Sumber amonia adalah
diaminasi asam amino pada perombakan protein dan pemecahan protein dalam usus
oleh bakteri usus.
Oksidasi deaminasi dari asam amino terjadi
dihepar, terutama dilakukan oleh glutamat-dehydrogenase, mengkatalisis
deaminasi alfa-glutamate menjadi alfa-ketoglutarate, dan merupakan salah satu
sumber amonia yang masuk kedalam siklus urea.
Fungsi amonia adalah sebagai regulasi
elektrolit dan pH. Ekskresinya lewat ginjal. Kadar ammonia dalam darah sangat
kecil : < 120 mg/dl.
Kadar yang meninggi, disebut ammoniumessi, dijumpai pada sirrhosis
hepatis, kadar glutamin meninggi dan perdarahan saluran cerna sebagai sumber
protein akan terbentuk ammonia. Kadar ammonia yang tinggi dapat meracuni otak,
menyebabkan encephalopati.
E.
Asam amino
Perubahan metabolisme asam amino hanya dapat
dilihat dalam jumlah terbatas oleh pemeriksaan kadar asam amino total didalam
plasma atau dalam urin. Pemeriksaan
keseluruhan masing-masing asam amino dapat dilakukan secara kuantitatif,
menggunakan alat automatis yang mahal untuk kromatografi lajur, atau secara
semikuantitatif dengan kromatografi sederhana.
Jumlah dalam tubuh asam amino sangat kecil :
3,6 – 7 mg/dl. Sumber asam amino adalah dari makanan yaitu asam amino
essensial, yang tidak dapat diproduksi tubuh.
Kadar asam amino meningkat setelah makan. Pada
kegagalan ginjal berat, asam amino plasma meningkat bersama dengan unsur NPN
darah lainnya.
Peningkatan kadar asam amino yang paling nyata sampai sekitar 20
mmol/l, akibat peningkatan ringan ditemukan pada hepatitis akuta, sirosis atau
setelah syock berat. Kadar asam amino plasma direndahkan oleh pengaruh anabolik
protein dari hormon pertumbuhan atau androgen. Nilai yang rendah bisa
didapatkan pada sindroma nefrotik, karena peningkatan kehilangan melalui
tubulus ginjal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar