A.
SEJARAH MIKROBIOLOGI PANGAN
Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani,
yaitu mikros = sangat kecil, bios = makhluk hidup, dan logos = ilmu.
Mikrobiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari makhluk hidup yang sangat
kecil dengan diameter kurang dari 1 mm yang hanya dapat dilihat dengan
mikroskop. Makhluk hidup yang sangat kecil tersebut disebut dengan mikrobia,
mikroba, mikroorganisme, protista atau jasad renik, yang meliputi protozoa,
algae, fungi, bakteri dan virus.
Mikrobiologi pangan (food microbiology)
adalah salah satu cabang dari mikrobiologi yang mempelajari peranan mikrobia,
baik yang menguntungkan maupun yang merugikan, pada rantai produksi makanan
sejak dari pemanenan/penangkapan/pemotongan, penanganan, penyimpanan, pengolahan,
distribusi, pemasaran, penghidangan sampai siap dikonsumsi.
Sejarah mikrobiologi pangan sebenarnya
bersamaan dengan kehadiran manusia di muka bumi namun sangat sulit ditentukan
titik mulanya secara pasti. Sejak manusia dapat memproduksi makanan sebenarnya
juga mulai dipelajari kerusakan makanan dan timbulnya keracunan makanan.
Berikut ini merupakan sejarah mulai dipelajarinya peranan mikrobia pada bahan
pangan yang terlibat pada kerusakan dan keracunan makanan.
Mikroba yang menguntungkan berperan dalam
Proses, berperan dalam peningkatan nilai gizi makanan, berperan dalam pengadaan bau dan rasa, berperan dalam perubahan warna. Sedangkan Mikroba yang merugikan bila
kehadirannya merubah nilai organoleptik yang tidak dikehendaki, menurunkan
berat atau volume, menurunkan nilai gizi, merubah bentuk dan susunan senyawa,
serta menghasilkan toksin yang membahayakan.
B.
Penyakit akibat pangan
Selain harus bergizi dan menarik, pangan
juga harus bebas dari bahan bahan berbahaya yang dapat berupa cemaran kimia,
mikroba dan bahan lainnya. Mikroba dapat mencemari pangan melalui air, debu,
udara, tanah, alat-alat pengolah (selama proses produksi atau penyiapan) juga
sekresi dari usus manusia atau hewan.
Penyakit akibat pangan (food borne
diseases) yang terjadi segera setelah mengkonsumsi pangan, umumnya disebut
dengan keracunan. Pangan dapat menjadi beracun karena telah terkontaminasi oleh
bakteri patogen yang kemudian dapat tumbuh dan berkembang biak selama
penyimpanan, sehingga mampu memproduksi toksin yang dapat membahayakan manusia.
Selain itu, ada juga makanan yang secara
alami sudah bersifat racun seperti beberapa jamur / tumbuhan dan hewan.
C.
Mikroba penyebab kerusakan dan keracunan makanan
Jenis mikroba yang terdapat dalam makanan
meliputi bakteri, kapang / jamur dan ragi serta virus yang dapat menyebabkan
perubahan-perubahan yang tidak diinginkan seperti penampilan, tekstur, rasa dan
bau dari makanan. Sedangkan keracunan pangan oleh bakteri yang merupakan
infeksi, dikelompokkan menjadi dua.
Kelompok pertama berasal dari makanan
yang berfungsi sebagai pembawa bakteri, misalnya disentri demam tifoid, kolera,
brusellosis sedangkan kelompok kedua berasal dari makanan yang berfungsi
sebagai media pertumbuhan bakteri, sehingga bakteri dapat berkembang biak,
diantaranya bakteri Salmonella, Clostridium perfringens, Bacillus cereus, dan
Escherichia coli enteropatogenik.
Golongan coliform mempunyai spesies
dengan habitat dalam saluran pencernaan dan non saluran pencernaan seperti
tanah dan air. Yang termasuk golongan coliform adalah Escherichia coli,
dan spesies dari Citrobacter, Enterobacter, Klebsiella dan
Serratia. Bakteri selain dari E.coli dapat hidup dalam
tanah atau air lebih lama daripada E.coli, karena itu adanya bakteri
coliform dalam makanan tidak selalu menunjukkan telah terjadi kontaminasi yang
berasal dari feses. Keberadaannya lebih merupakan indikasi dari kondisi prosessing
atau sanitasi yang tidak memadai dan keberadannya dalam jumlah tinggi dalam
makanan olahan menunjukkan adanya kemungkinan pertumbuhan dari Salmonella,
Shigella dan Staphylococcus.
Escherichia coli dan Coliform fekal, biasanya,
merupakan indikator dari kontaminan dengan sumber/ bahan fekal. Habitat alami
dari E.coli adalah saluran pencernaan bawah hewan dan manusia.
Sedangkan Coliform fekal merupakan metode pemeriksaan untuk menunjukkan
adanya E.coli atau spesies yang sangat dekat dengan E.coli secara
cepat tanpa harus mengisolasi biakan dan melakukan test IMVIC.
Sebagian besar terdiri dari E.coli tipe I
dan tipe II yang merupakan petunjuk penting dari kontaminan asal dari bahan
fekal. E.coli dan coliform, yang termasuk golongan Enterobacteriaceae
adalah Salmonella, Shigella dan Enterobacter sakazaki selain
golongan Enterococci yaitu Streptococcus faecalis dan S.faecium
merupakan flora normal dari saluran pencernaan manusia dan hewan. Golongan
ini tidak banyak digunakan sebagai indikator kontaminasi fekal tetapi lebih
dikaitkan dengan sanitasi produksi yang buruk oleh karena daya tahan yang
tinggi dari mikroba terhadap kekeringan, suhu tinggi dan pendinginan serta
pengaruh detergen atau disinfektan. Dengan sifat yang tahan terhadap
pendinginan maka bakteri ini dapat digunakan sebagai indikator untuk makanan
beku dan makanan yang sudah dipanaskan.
Staphylococci terutama Staphylococcus aureus keberadaannya dalam makanan
bisa bersumber dari kulit, mulut atau rongga hidung pengolah pangan. Bila
ditemukan dalam jumlah tinggi merupakan indikator dari kondisi sanitasi yang
tidak memadai.
Mikroba patogen Meliputi bakteri,
jamur/kapang dan ragi/yeast, bakteri patogen termasuk jenis penyebab
toksiinfeksi makanan diantaranya Salmonella, Shigella, Brucella.
Umumnya ada beberapa jenis golongan bakteri terpenting yang dapat menyebabkan
kerusakan makanan dan keracunan yaitu Acetobacter, Achromobacter,
Alcalinenes, Bacillus, Bacteroides, Clostridium,Corynebacterium, Enterococci, Enterobacter,
Erwinia, Escherichia, Flavobacterium, Kurthia, Lactobacillus, Leuconostoc,
Micrococcus, Paracolobactrum, Proteus, Pseudomonas, Salmonella, Sarcina, Serratia,
Shigella, Staphylococcus dan Streptomyces.
Refrensi :
Info POM, 2008, Pengujian
Mikrobiologi Pangan Vol.9 No.2, Jakarta : Badan POM
Michael J.Palczar, 2005, Dasar
Dasar Mikrobiologi 2, Jakarta : Universitas Indonesia Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar