BAB I
PENDAHULUAN
A.
Pengertian
Entomologi Kedokteran adalah ilmu
yang mempelajari tentang vektor, kelainan dan penyakit yang disebabkan oleh
artropoda. 85 % atau kira – kira 600.000 dari spesies hewan adalah arthropoda.
B.
Morfologi
umum
Arthropoda merupakan binatang
invertebrata, bersel banyak, bersegmen – segmen, bentuknya simetris bilateral,
memiliki exoskeleton (rangka luar) yang terbuat dari chitin, dan mempunyai
beberapa pasang kaki dengan banyak sendi (arthro = sendi, poda = kaki).
C.
Daur
hidup
Dalam siklus hidupnya setelah
arthropoda betina kawin dengan arthropoda jantan, arthropoda betina akan
menghasilkan telur. Telur ini kemudian berkembang menjadi larva. Larva
berkembang menjadi arthropoda dewasa. Beberapa serangga siklus hidupnya : telur
menjadi larva, larva menjadi pupa dan pupa menjadi serangga dewasa.
BAB II
ARTHROPODA DAN PENYAKIT PADA MANUSIA
Banyak anggota
arthropoda yang berhubungan dengan kejadian penyakit pada manusia. Telah banyak
jiwa yang melayang, penderitaan dan biaya dikeluarkan, berkaitan dengan
penyakit yang ada hubungannya dengan arthropoda. Peran arthropoda sehubungan
dengan terjadinya penyakit yang berkaitan dengannya dapat dibagi dalam 2 golongan yaitu :
A.
Arthropoda
langsung sebagai penyebab penyakit
1.
Entomophobia
Merupakan suatu
jenis kelainan jiwa di mana seseorang menunjukkan rasa takut yang berlebihan
(abnormal) terhadap suatu jenis arthropoda. Untuk penyembuhan diperlukan
bantuan psychiatrist (dokter ahli jiwa).
2.
Menghisap
darah dan menggangu
Beberapa
spesies arthropoda, menghisap darah manusia tetapi tidak merupakan vektor suatu
penyakit, namun cukup mengganggu. Misalnya Cimex lectularius (kutu
busuk).
3.
Trauma
pada alat indera
Arthropoda
masuk kelubang telinga, hidung atau rongga mata karena musibah (kecelakaan),
misalnya seseorang naik motor, tanpa memakai pelindung mata.
4.
Racun
atau menimbulkan alergi (menggigit, menyengat)
Beberapa Arthropoda beracun atau menimbulkan alergi
Istilah umum
|
Akibat yang
ditimbulkan
|
Kalajengking
( Scorpion )
|
Rasa sakit
karena sengatan, racunnya bersifat hemolysis dan neurotoxis, kadang
mematikan.
|
Kelabang
( Centipedes
)
|
Rasa sakit
karena gigitan, necrosis
|
Tawon, Lebah
|
Sakit karena
gigitan, bengkak
|
Ulat bulu
|
Sakit,
urticaria, ruam di kulit, pada tempat sentuhan dengan bulu.
|
Laba – laba
Black widow
|
Racun
bersifat neurotoxin, menimbulkan rasa sakit yang hebat, otot dinding perut
menjadi kaku, kematian terjadi karena kelumpuhan.
|
Kutu tikus
|
Dermatitis,
gatal, perdarahan pada daerah gigitan kutu.
|
Kutu beras,
jagung,
gandum, keju
|
Dermatitis,
reaksi alergi bila kontak dengan partikel arthropoda yang sudah mati.
|
5.
Myiasis
Larva ini hidup
dari jaringan hidup, jaringan necrotis atau jaringan mati host. Serangga yang
menimbulkan myasis dibagi 3 golongan yaitu :
a.
Specific myasis
b.
Semispecific myasis
c.
Accidental myasis
Berdasarkan
tempat infestasi larvanya, myasis dibagi menjadi :
a. Myasis kulit ( Kulit superficial, Typical )
b. Myasis pada hidung, mulut, mata dan telinga
c. Myasis trauma
d. Myasis gastrointestinalis
e. Myasis genitourinarius
6.
Dermatosis
Merupakan
iritasi kulit oleh arthropoda, baik karena gigitannya maupun karena invasinya
kejaringan kulit.
Beberapa Arthropoda yang menyebabkan
dermatosis
Nama ilmiah
|
Akibat yang
ditimbulkan
|
Sarcoptes
scabiei
|
Membuat
terowongan didalam kulit, acariasis
|
Pediculus
humanus capitis
|
Rambut
menjadi kusam dan bau
|
Pediculus
humanus corporis
|
Gatal
bentolan kemerahan dikulit
|
Phthirus
pubis
|
Gatal yang
sangat mengganggu
|
Ctenocephalides
canis, Ctenocephalides felis, Xenopsylla cheopis
|
Radang kulit
( Dermatitis )
|
Cimex
|
Menghisap
darah dan menyebabkan gatal
|
Simulium
sp.
Phlebotomus
sp.
|
Bekas gigitan
terasa sakit, bengkak, bentol, gatal dan berdarah
|
Family
: Cullicidae
|
Bentol dan
gatal pada bekas gigitan
|
Stomoxys
calcitrans, Glossina sp.
|
Bekas
gigitannya terasa sakit
|
B.
Arthropoda
sebagai vektor penyakit
1.
Transmisi
mekanis
Arthropoda
memindahkan bibit penyakit secara mekanis, misalnya : Musca domestica
(lalat rumah) yang secara kebetulan hinggap di feces lalu memindahkan Shigella
dysenteriae dari feces ke makanan yang terbuka sehingga terjadi penularan
penyakit dysenteri.
Arthropoda dapat memindahkan bibit
penyakit melalui bagian mulut, badan, kaki atau bulunya.
2.
Transmisi
biologis
a.
Transmisi
propagatif
Di dalam tubuh
arthropoda bibit penyakit bertambah jumlahnya tetapi tidak terjadi perubahan
bentuknya. Misalnya, cara penularan pest bubo, pasteurella pestishanya
bermultiplikasi di dalam usus Xenopsylla cheopis, tanpa merubah bentuk
dan strukturnya.
b.
Transmisi
cyclo-developmental
Bibit penyakit
mengalami perubahan bentuk dan strukturnya dalam siklus hidupnya, tetapi
jumlahnya tidak bertambah. Misalnya, perkembangan microfilaria Wuchereria
bancrofti di dalam tubuh nyamuk Culex fatigans.
c.
Transmisi
cyclo-propagatif
Bibit penyakit
mengalami perubahan bentuk maupun strukturnya dan jumlahnya bertambah sebagai
kelanjutan dari siklus hidupnya.
Misalnya pertumbuhan dan
perkembangan Plasmodium sp. Di dalam tubuh nyamuk Anopheles sp.
Hampir semua jenis bibit penyakit
dapat ditularkan oleh Arthropoda sebagai vektor penyakit atau host intermediate
–nya. Bibit penyakit yang dimaksud adalah bakteri, rickettsia, virus, protozoa
dan cacing.
Cara arthropoda
mendapatkan, mengembangkan dan menularkan bibit penyakit :
1.
Bibit
penyakit bersama darah atau jaringan host dimakan arthropoda
2.
Bibit
penyakit melanjutkan perkembangannya dengan atau tanpa berkembang biak.
3.
Bibit
penyakit menembus dinding usus arthropoda
4.
Bibit
penyakit menyebar bersama hemolymph ke seluruh jaringan arthropoda
5.
Bibit
penyakit menumpuk di kalenjar ludah dan invasi ke epithel dan oocytes dari
ovarium untuk terjadinya transmisi transovarial.
6.
Dimasukkan
kedalam tubuh host, dimana bibit penyakit :
a.
Dimuntahkan
dari lambung atau berasal dari kelenjar ludah
b.
Menembus
tubuh arthropoda seperti pada filaria
7.
Bibit
penyakit berada dalam feces arthropoda masuk kedalam luka gigitan
8.
Bibit
penyakit akan dieksresikanoleh kelenjar coxal, misalnya penularan virus
9.
Host
mendapatkan infeksinya karena makanan atau minuman terkontaminasi arthropoda
yang mengandung bibit penyakit.
BAB III
PENGENDALIAN ARTHROPODA
Pengendalian
arthropoda adalah upaya untuk mengurangi jumlah arthropoda dan menghambat
hubungannya dengan manusia. Pengendalian arthropoda merupakan salah satu cara
untuk mencegah penularan penyakit.
A.
Mekanis
Pengendalian
mekanis terutama ditujukan pada pengelolaan tempat hidup dan berkembang biaknya
arthropoda.
Beberapa kegiatan pengendalian
mekanis :
1.
Perbaikan
sanitasi lingkungan
Menimbun sampah yang bisa membusuk
dengan tanah, tempat sampah harus ditutup rapat dan dicuci bersih paling tidak
seminggu sekali.
2.
Dengan
perangkap
Dengan menaruh zat yang mempunyai
daya tarik bagi arthropoda digabung dengan perekat. Misalnya, kertas perangkap
lalat yang bisa digantung di dalam rumah.
3.
Penataan
lingkungan
Penataan lingkungan dimaksudkan
untuk menghilangkan tempat berkembang biak dan mencegah arthropoda berhubungan
dengan manusia. Beberapa jenis nyamuk dapat diberantas dengan memperlancar
aliran air di kali atau menghilangkan sampah yang menghambat aliran airnya.
B.
Zat
Kimia
Penggunaan
pestisida dalam pengendalian arthropoda untuk keperluan rumah tangga, pertanian
dan program kesehatan masyarakat sudah lama dilaksanakan.
Pestisida harus digunakan sesuai
dengan aturan pakainya, agar hasil efektif, tidak menyebabkan arthropoda
resisten dan mencemari lingkungan.
C.
Secara
Biologis
Pengendalian
arthropoda dengan menggunakan makhluk hidup (secara biologis), antara lain
memelihara ikan Gambusia affinis yang akan memangsa larva nyamuk pada genangan
air yang tidak akan atau sukar dikeringkan, misalnya rawa.
D.
Perlindungan
Perorangan
Perlindungan
perorangan merupakan upaya seseorang untuk menghindari gigitan arthropoda
sebagai upaya pencegahan penularan penyakit. Dapat dilakukan dengan memakai
pakaian yang menutup tubuh, tidur berkelambu, dan menggunakan zat pengusir
serangga (insecta repellent) pada bagian tubuh yang terbuka.
Referensi :
Entjang
Indan, 2003, Mikrobiologi Dan Parasitologi Untuk Akademi Keperawatan Dan
Sekolah Tenaga Kesehatan Yang Sederajat, Bandung :Citra Aditya Bakti
http://budisma.web.id/materi/sma/biologi-kelas-x/filum-arthropoda/
Srisasi
Gandahusada,dkk, 2006, Parasitologi Kedokteran Edisi ketiga, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar