Selasa, 05 Februari 2013

Entomologi Kedokteran


BAB I
PENDAHULUAN

A.           Pengertian
Entomologi Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari tentang vektor, kelainan dan penyakit yang disebabkan oleh artropoda. 85 % atau kira – kira 600.000 dari spesies hewan adalah arthropoda.

B.            Morfologi umum
Arthropoda merupakan binatang invertebrata, bersel banyak, bersegmen – segmen, bentuknya simetris bilateral, memiliki exoskeleton (rangka luar) yang terbuat dari chitin, dan mempunyai beberapa pasang kaki dengan banyak sendi (arthro = sendi, poda = kaki).

C.            Daur hidup
Dalam siklus hidupnya setelah arthropoda betina kawin dengan arthropoda jantan, arthropoda betina akan menghasilkan telur. Telur ini kemudian berkembang menjadi larva. Larva berkembang menjadi arthropoda dewasa. Beberapa serangga siklus hidupnya : telur menjadi larva, larva menjadi pupa dan pupa menjadi serangga dewasa.
Gambar 1.1 Siklus hidup Musca domestica

BAB II
ARTHROPODA DAN PENYAKIT PADA MANUSIA

Banyak anggota arthropoda yang berhubungan dengan kejadian penyakit pada manusia. Telah banyak jiwa yang melayang, penderitaan dan biaya dikeluarkan, berkaitan dengan penyakit yang ada hubungannya dengan arthropoda. Peran arthropoda sehubungan dengan terjadinya penyakit yang berkaitan dengannya dapat dibagi dalam  2 golongan yaitu :
A.           Arthropoda langsung sebagai penyebab penyakit
1.    Entomophobia
Merupakan suatu jenis kelainan jiwa di mana seseorang menunjukkan rasa takut yang berlebihan (abnormal) terhadap suatu jenis arthropoda. Untuk penyembuhan diperlukan bantuan psychiatrist (dokter ahli jiwa).
2.    Menghisap darah dan menggangu
Beberapa spesies arthropoda, menghisap darah manusia tetapi tidak merupakan vektor suatu penyakit, namun cukup mengganggu. Misalnya Cimex lectularius (kutu busuk).
3.    Trauma pada alat indera
Arthropoda masuk kelubang telinga, hidung atau rongga mata karena musibah (kecelakaan), misalnya seseorang naik motor, tanpa memakai pelindung mata.
4.    Racun atau menimbulkan alergi (menggigit, menyengat)
Beberapa Arthropoda beracun atau menimbulkan alergi
Istilah umum
Akibat yang ditimbulkan
Kalajengking
( Scorpion )
Rasa sakit karena sengatan, racunnya bersifat hemolysis dan neurotoxis, kadang mematikan.
Kelabang
( Centipedes )
Rasa sakit karena gigitan, necrosis
Tawon, Lebah
Sakit karena gigitan, bengkak
Ulat bulu
Sakit, urticaria, ruam di kulit, pada tempat sentuhan dengan bulu.
Laba – laba
Black widow
Racun bersifat neurotoxin, menimbulkan rasa sakit yang hebat, otot dinding perut menjadi kaku, kematian terjadi karena kelumpuhan.
Kutu tikus
Dermatitis, gatal, perdarahan pada daerah gigitan kutu.
Kutu beras,
jagung, gandum, keju
Dermatitis, reaksi alergi bila kontak dengan partikel arthropoda yang sudah mati.

5.    Myiasis
Larva ini hidup dari jaringan hidup, jaringan necrotis atau jaringan mati host. Serangga yang menimbulkan myasis dibagi 3 golongan yaitu :
a.    Specific myasis
b.    Semispecific myasis
c.    Accidental myasis
Berdasarkan tempat infestasi larvanya, myasis dibagi menjadi :
a.    Myasis kulit ( Kulit superficial, Typical )
b.    Myasis pada hidung, mulut, mata dan telinga
c.    Myasis trauma
d.   Myasis gastrointestinalis
e.    Myasis genitourinarius
6.    Dermatosis
Merupakan iritasi kulit oleh arthropoda, baik karena gigitannya maupun karena invasinya kejaringan kulit.

Beberapa Arthropoda yang menyebabkan dermatosis
Nama ilmiah
Akibat yang ditimbulkan
Sarcoptes scabiei
Membuat terowongan didalam kulit, acariasis
Pediculus humanus capitis
Rambut menjadi kusam dan bau
Pediculus humanus corporis
Gatal bentolan kemerahan dikulit
Phthirus pubis
Gatal yang sangat mengganggu
Ctenocephalides canis, Ctenocephalides felis, Xenopsylla cheopis
Radang kulit ( Dermatitis )
Cimex
Menghisap darah dan menyebabkan gatal
Simulium sp.
Phlebotomus sp.
Bekas gigitan terasa sakit, bengkak, bentol, gatal dan berdarah
Family : Cullicidae
Bentol dan gatal pada bekas gigitan
Stomoxys calcitrans, Glossina sp.
Bekas gigitannya terasa sakit

B.            Arthropoda sebagai vektor penyakit
1.    Transmisi mekanis
Arthropoda memindahkan bibit penyakit secara mekanis, misalnya : Musca domestica (lalat rumah) yang secara kebetulan hinggap di feces lalu memindahkan Shigella dysenteriae dari feces ke makanan yang terbuka sehingga terjadi penularan penyakit dysenteri.
Arthropoda dapat memindahkan bibit penyakit melalui bagian mulut, badan, kaki atau bulunya.
2.    Transmisi biologis
a.    Transmisi propagatif
Di dalam tubuh arthropoda bibit penyakit bertambah jumlahnya tetapi tidak terjadi perubahan bentuknya. Misalnya, cara penularan pest bubo, pasteurella pestishanya bermultiplikasi di dalam usus Xenopsylla cheopis, tanpa merubah bentuk dan strukturnya.
b.    Transmisi cyclo-developmental
Bibit penyakit mengalami perubahan bentuk dan strukturnya dalam siklus hidupnya, tetapi jumlahnya tidak bertambah. Misalnya, perkembangan microfilaria Wuchereria bancrofti di dalam tubuh nyamuk Culex fatigans.
c.    Transmisi cyclo-propagatif
Bibit penyakit mengalami perubahan bentuk maupun strukturnya dan jumlahnya bertambah sebagai kelanjutan dari siklus hidupnya.
Misalnya pertumbuhan dan perkembangan Plasmodium sp. Di dalam tubuh nyamuk Anopheles sp.

Hampir semua jenis bibit penyakit dapat ditularkan oleh Arthropoda sebagai vektor penyakit atau host intermediate –nya. Bibit penyakit yang dimaksud adalah bakteri, rickettsia, virus, protozoa dan cacing.
Cara arthropoda mendapatkan, mengembangkan dan menularkan bibit penyakit :
1.    Bibit penyakit bersama darah atau jaringan host dimakan arthropoda
2.    Bibit penyakit melanjutkan perkembangannya dengan atau tanpa berkembang biak.
3.    Bibit penyakit menembus dinding usus arthropoda
4.    Bibit penyakit menyebar bersama hemolymph ke seluruh jaringan arthropoda
5.    Bibit penyakit menumpuk di kalenjar ludah dan invasi ke epithel dan oocytes dari ovarium untuk terjadinya transmisi transovarial.
6.    Dimasukkan kedalam tubuh host, dimana bibit penyakit :
a.    Dimuntahkan dari lambung atau berasal dari kelenjar ludah
b.    Menembus tubuh arthropoda seperti pada filaria
7.    Bibit penyakit berada dalam feces arthropoda masuk kedalam luka gigitan
8.    Bibit penyakit akan dieksresikanoleh kelenjar coxal, misalnya penularan virus
9.    Host mendapatkan infeksinya karena makanan atau minuman terkontaminasi arthropoda yang mengandung bibit penyakit.


BAB III
PENGENDALIAN ARTHROPODA

Pengendalian arthropoda adalah upaya untuk mengurangi jumlah arthropoda dan menghambat hubungannya dengan manusia. Pengendalian arthropoda merupakan salah satu cara untuk mencegah penularan penyakit.
A.           Mekanis
Pengendalian mekanis terutama ditujukan pada pengelolaan tempat hidup dan berkembang biaknya arthropoda.
Beberapa kegiatan pengendalian mekanis :
1.    Perbaikan sanitasi lingkungan
Menimbun sampah yang bisa membusuk dengan tanah, tempat sampah harus ditutup rapat dan dicuci bersih paling tidak seminggu sekali.
2.    Dengan perangkap
Dengan menaruh zat yang mempunyai daya tarik bagi arthropoda digabung dengan perekat. Misalnya, kertas perangkap lalat yang bisa digantung di dalam rumah.
3.    Penataan lingkungan
Penataan lingkungan dimaksudkan untuk menghilangkan tempat berkembang biak dan mencegah arthropoda berhubungan dengan manusia. Beberapa jenis nyamuk dapat diberantas dengan memperlancar aliran air di kali atau menghilangkan sampah yang menghambat aliran airnya.
B.            Zat Kimia
Penggunaan pestisida dalam pengendalian arthropoda untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan program kesehatan masyarakat sudah lama dilaksanakan.
Pestisida harus digunakan sesuai dengan aturan pakainya, agar hasil efektif, tidak menyebabkan arthropoda resisten dan mencemari lingkungan.
C.            Secara Biologis
Pengendalian arthropoda dengan menggunakan makhluk hidup (secara biologis), antara lain memelihara ikan Gambusia affinis yang akan memangsa larva nyamuk pada genangan air yang tidak akan atau sukar dikeringkan, misalnya rawa.
D.           Perlindungan Perorangan
Perlindungan perorangan merupakan upaya seseorang untuk menghindari gigitan arthropoda sebagai upaya pencegahan penularan penyakit. Dapat dilakukan dengan memakai pakaian yang menutup tubuh, tidur berkelambu, dan menggunakan zat pengusir serangga (insecta repellent) pada bagian tubuh yang terbuka.




Referensi :
Entjang Indan, 2003, Mikrobiologi Dan Parasitologi Untuk Akademi Keperawatan Dan Sekolah Tenaga Kesehatan Yang Sederajat, Bandung :Citra Aditya Bakti
http://budisma.web.id/materi/sma/biologi-kelas-x/filum-arthropoda/
Srisasi Gandahusada,dkk, 2006, Parasitologi Kedokteran Edisi ketiga, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar